Lintang Nagari

Tempat kata mengoceh kacau.

Hari yang Terlalu Biasa

Seperti kemarin, tak ada yang menarik yang terjadi di hari ini. Semua tampak biasa, tanpa cerita penuh drama. Tampak menyenangkan meski mungkin terlalu tenang. Ketenangan yang membawa segelintir hampa yang kemudian memenuhi isi kepala.

Bagaimana rasanya jika penuh oleh sesuatu yang kosong? Menyedihkan? Menenangkan? Kesepian? Ketiadaan…

Hari ini masih ada beberapa jam lagi. Hari ini masih memiliki waktu sebelum detik membawanya pergi. Seperti apa harus kuakhiri hari ini? Menanti bukan satu-satunya jawaban pasti.

Ada banyak yang tak menyadari kalau detik menjadi berharga dengan sejuta rahasia. Lalu adakah rahasia di detik yang hampa? Adakah yang mengejutkan dalam tenang yang merata? Kuputuskan untuk mengakhiri hari ini dengan bertanya, tanpa perlu tahu apapun yang akan menjawab semuanya.

Mati Dalam Kenangan

Aku berjalan. Jatuh.

Tak tahu ke mana lagi harus melangkah. Kakiku hilang arah.

Hilang kekuatan. Tak ada penopang. Tak punya harapan.

Dipeluk lelah, ragaku goyah. Mati perlahan, tersesat dalam kenangan.

Aku Ingin Cinta Itu Kita

Bagaimana kalau sekarang kukatakan bahwa aku mencintaimu? Apa kau bahagia? Mungkinkah kau ‘kan menari untuk merayakannya?

Aku sendiri tak pernah tahu pasti bagaimana perasaanmu saat ini. Hanya mampu menerka lewat kata yang mungkin saja bermakna lebih dari dua. Atau mencoba mengerti, meski tak semua yang kau lakukan adalah pasti.

Rasanya seperti seorang anak kecil yang takut menebak isi kado dari Santa. Berharap isinya sesuai dengan doa, lalu kemungkinannya hanya dua; kecewa atau malah bahagia luar biasa.

Sayangnya aku bukan anak kecil lagi yang bisa memandang semua dari sudut pandang sederhana. Andai mencintai bisa semudah itu, mungkin bahagia bukan lagi hal yang langka di duniaku.

Kini, cinta lebih sering terbungkus ragu, diselimuti semu. Ketidakyakinan pun datang menambah beban pikiran. Cinta semakin membingungkan. Apalagi ketika tanda tanya meraksasa dan cinta sendiri tak mampu menjadi jawabannya.

Dan bagiku, kaulah tanda tanya itu.

Namun apa kau tahu? Karena kehadiranmu juga aku jadi ingin berusaha menyederhanakan sebuah cinta. Cinta yang kini aku rasa. Cinta yang menjadikanmu sebuah tanda tanya. Aku ingin membuatnya lebih mudah dari soal matematika tapi tak kalah indah dari lukisan para dewa.

Aku hanya ingin membuat cinta menjadi kita. Bisa?

Sebuah Balasan Sederhana

Maaf, karena baru sekarang aku sempat membalas suratmu. Dan aku tak mau mencari alasan atau asal menyalahkan. Sekali lagi, maaf..

Sejujurnya aku sangat senang kau mau menulis surat seperti itu padaku. Ketika membacanya, aku tau kalau kau begitu memerhatikan setiap tulisan yang kutulis di blog dan juga di twitter. Dan, heii.. Jangan menilaiku setinggi itu. Aku merasa belum layak kau panggil penyair atau apapun itu. Masih jauh jalanku. Tapi terima kasih banyak kau sudah bersedia membaca tulisanku dan juga terinspirasi karenanya. Aku bahagia mengetahui itu semua. 🙂

Bertemu? Hahaha, tentu bisa. Aku bukan hantu yang tak kasat mata, kan? Tapi aku tak mau berjanji atau merencanakannya. Biar Tuhan saja yang tentukan bagaimana caranya.

Terima kasih kalau kau bisa melihat luka dari goresan kata, aku senang ada yang menyadarinya. Walau tak semua luka itu punyaku. Karena beberapa tulisan itu adalah bentuk dari luka atau cerita orang lain. Bahkan mungkin hanya sekadar bualan yang lahir dari permainan khayalan. Maafkan kalau ada yang menganggap itu tipuan.

Kau tak percaya kalau aku belum pernah sekalipun punya hubungan dengan pria? Hihi, mungkin kedengarannya memang tidak masuk akal, tapi itu kenyataannya. Sudahlah, masalah itu bukan lagi jadi prioritasku. Aku percaya kalau Tuhan punya rencana.

Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih atas suratmu. Jangan ragu kalau mau menyapa orang lain. Kadang keraguan malah membuat sesuatu jadi berlebihan dan akhirnya malah jadi satu beban. Cukup tersenyum saja, kawan. 🙂

Salam,

manggarlintang

***

Ditulis sebagai balasan untuk @MunadiWhiteBird. Surat dan tulisannya bisa dibaca di http://munadiwhitebird.wordpress.com

Biggest Stone, Tallest Wall

#Day7 07 Mei 2012 – Biggest Stone, Tallest Wall

1. Seperti biasa, tulis 10 hal yang kamu syukuri atas hari kemarin (Minggu, 6 Mei 2012). Akhiri dengan “terima kasih” 3 kali.

2. Tugas Utama: Pilih satu masalah/situasi terberat yang sedang terjadi dalam hidupmu saat ini dan ingin kamu tuntaskan sekarang juga. Buat daftar 10 hal yang paling kamu syukuri dari keadaan negatif tersebut, dengan “terima kasih” 3 kali untuk penyelesaiannya. Setiap kali kita berpikir negatif tentang hal tersebut, katakan, “Tapi saya bersyukur itu terjadi karena ___.”

3. NO NEGATIVE COMMENT ALLOWED. Cobalah untuk melihat hal-hal positif dari suatu situasi negatif yang kita alami.

~ Yang saya syukuri atas hari kemarin (07 Mei 2012):

1. Saya bersyukur bisa membuka mata, melihat dunia, merasakan hidup yang nyata, mendengar suara, menikmati udara, makan, minum, merindu, mencinta dan bahagia.

2. Saya bersyukur masih dikelilingi keluarga. Merekalah alasan saya untuk tetap berjalan menempuh semua.

3. Saya bersyukur bisa membayar uang kuliah untuk tahap pertama. Semoga ada rejeki untuk cicilan berikutnya.

4. Saya bersyukur bisa tertawa. Tawa adalah salah satu cara saya mensyukuri anugerah Tuhan yang tiada tara.

5. Saya bersyukur ada jamur yang bisa dipanen setiap hari.

6. Saya bersyukur bisa melihat bulan di pagi hari tadi. Sisa purnama. Tanpa awan yang menghalangi.

7. Saya bersyukur pohon tomat yang ditanam bapak semakin subur dan tumbuh tinggi.

8. Saya bersyukur bisa melihat senyum di bibir bapak dan ibu. Mencipta tawa bersama mereka adalah rasa yang luar biasa.

9. Saya bersyukur kemarin bisa selesai mengerjakan tugas #MagicalMay2012 hari keenam, meski sebelumnya saya ragu.

10. Saya bersyukur kemarin bisa menikmati hujan, menerima tiap rintiknya di kepala.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

~ Satu masalah terberat yang sedang saya hadapi.

Kalau harus memilih satu rasanya tak bisa. Terlalu banyak masalah di hidup saya saat ini. Saya sendiri tak bisa memilih yang manakah yang paling sulit. Semua memiliki kadar kesulitan yang nyaris sama. Serupa. Bahkan kadang rasanya tak cukup lagi kepala dan hati ini memikirkan semuanya. Sesak.

Masalah keuangan keluarga. Jatuh. Terinjak. Memulai dari awal. Merangkak. Diragukan. Tetap berusaha. Berdoa. Meski belum ada kejelasannya, tapi saya bersyukur, dengan adanya masalah ini saya sadar kalau ternyata hidup ini benar-benar penuh perjuangan. Saya bersyukur bisa menikmati rasanya berjuang dan memulai dari awal. Berat. Tapi saya yakin akan ada bahagia yang menanti. Allah pun tak mungkin tidak peduli. Dia selalu memberkati.

Masalah masa depan dan pilihan saya. Kadang ada rasa takut ketika memilih sesuatu yang berhubungan dengan masa depan. Takut salah. Takut tak bisa menjalani. Takut tidak kuat untuk tetap berdiri. Tapi saya bersyukur saya masih disediakan pilihan. Mungkin banyak di luar sana orang-orang yang tak punya pilihan atau menjalani hidup dengan jalan yang dipilihkan. Saya bersyukur akhirnya saya bisa melanjutkan kuliah saya. Meskipun telat. Tapi karena telat itulah saya jadi punya banyak pengalaman yang berharga.

Masalah cinta. Hahaha… Belum apa-apa saya sudah menangis sebelum menuliskannya. Mungkin juga karena pengaruh dari dua masalah sebelumnya. Ya, saya serapuh itu. Cengeng. Selalu pura-pura kalau semua baik-baik saja, padahal ada kehampaan yang begitu besar di hati saya. Karena itu saya ingin diperhatikan. Saya ingin dicintai, tentu ini beda dari cinta keluarga. Saya juga ingin merasakan punya kekasih seperti yang lainnya. Saya ingin ada seseorang yang bisa jadi tempat bagi saya untuk bercerita, berbagi beban. Salah, ya?

Tapi di sisi lain saya bersyukur. Saya jadi punya banyak waktu buat keluarga. Nggak perlu galau karena pacar nggak ada kabar. Saya juga masih bisa lebih memperhatikan sekeliling saya. Bukan hanya memberikan perhatian saya pada satu orang saja. Saya bersyukur, berarti Allah benar-benar sedang mempersiapkan seseorang yang tepat buat saya dan nggak membiarkan saya memilih orang yang salah. Ya, saya bersyukur karena ternyata tanpa seorang kekasih pun saya masih bisa merasa bahagia.

Dengan adanya begitu banyak masalah di hidup saya, saya merasa Allah masih memperhatikan saya, masih percaya pada saya kalau saya bisa. Saya juga bersyukur, ternyata banyak masalah tidak mencegah saya untuk merasa bahagia. Saya bersyukur masih ada keluarga yang menopang saya ketika saya lelah. Saya bersyukur punya masalah. Karena ketika tak ada satu masalah pun di hidupmu, itu adalah masalah terberat bagimu.

Terima kasih, semesta, masalah ini telah tercipta. Terima kasih, karena ternyata saya masih bisa. Terima kasih, Tuhan, atas penyelesaian masalah yang akan tiba.

#MagicalMay2012 #Day7